Jumat, 28 Oktober 2016

tokoh farmasi islam



Tokoh Farmasi Muslim

Abu Ja’far Al-Ghafiqi (wafat 1165 M)
Ilmuwan Muslim yang satu ini juga turut memberi kontribusi dalam pengembangan farmakologi dan farmasi. Sumbangan Al-Ghafiqi untuk memajukan ilmu tentang komposisi, dosis, meracik dan menyimpan obat-obatan dituliskannya dalam kitab Al-Jami’ Al-Adwiyyah Al-Mufradah. Risalah itu memaparkan tentang pendekatan dalam metodelogi, eksperimen, serta observasi dalam farmakologi dan farmasi.

Sabur Ibnu Sahl (wafat 869 M)
Ibnu Sahal adalah dokter pertama yang mempelopori pharmacopoeia. Kontribusinya dalam bidang farmakologi dan farmasi juga terbilang mata besar. Dia menjelaskan beragam jenis obat-obatan. Sumbangannya untuk pengembangan farmakologi dan farmasi dituangkannya dalam kitab Al-Aqrabadhin.

Abu Hasan ‘Ali bin Sahl Rabban at- Tabari
At-Tabari lahir pada tahun 808 M. Pada usia 30 tahun, dia dipanggil oleh Khalifah Al-Mu’tasim ke Samarra untuk menjadi dokter istana. Salah satu sumbangan At-Tabari dalam bidang farmakologi adalah dengan menulis sejumlah kitab. Salah satunya yang terkenal adalah Paradise of Wisdom. Dalam kitab ini dibahas mengenai pengobatan menggunakan binatang dan organ-organ burung. Dia juga memperkenalkan sejumlah obat serta cara pembuatannya.
Ibnu Al-Baitar
Ibnu Al-Baitar lahir pada akhir abad 12 (1197) di kota Malaga (Spanyol), Ibnu Al-Baitar menghabiskan masa kecilnya di tanah Andalusia tersebut. Minatnya pada tumbuh-tumbuhan sudah tertanah semenjak kecil. Beranjak dewasa, dia pun belajar banyak mengenai ilmu botani kepada Abu al-Abbas al-Nabati yang pada masa itu merupakan ahli botani terkemuka. Dari sinilah, al-Baitar pun lantas banyak berkelana untuk mengumpulkan beraneka ragam jenis tumbuhan.


Tahun 1219 dia meninggalkan Spanyol untuk sebuah ekspedisi mencari ragam tumbuhan. Bersama beberapa pembantunya, al-Baitar menyusuri sepanjang pantai utara Afrika dan Asia Timur Jauh. Tidak diketahui apakah jalan darat atau laut yang dilalui, namun lokasi utama yang pernah disinggahi antara lain Bugia, Qastantunia (Konstantinopel), Tunisia, Tripoli, Barqa dan Adalia.

Setelah tahun 1224 al-Baitar bekerja untuk al-Kamil, gubernur Mesir, dan dipercaya menjadi kepala ahli tanaman obat. Tahun 1227, al-Kamil meluaskan kekuasaannya hingga Damaskus dan al-Baitar selalu menyertainya di setiap perjalanan. Ini sekaligus dimanfaatkan untuk banyak mengumpulkan tumbuhan.

Ketika tinggal beberapa tahun di Suriah, Al-Baitar berkesempatan mengadakan penelitian tumbuhan di area yang sangat luas, termasuk Saudi Arabia dan Palestina, di mana dia sanggup mengumpulkan tanaman dari sejumlah lokasi di sana.
Muhammad ibn Zakariya Razi
Muhammad ibn zakariya razi hidup pada tahun 865 sampai dengan 915. Muhammad ibn Zakariya Razi bergerak untuk memperkenalkan penggunaan komposisi kimia untuk penggunaan pengobatan.
Abu Al Qasim Al Zahrawi
Abu Al Qasim Al Zahrawi atau juga dikenal dengan nama Abulcasis yang hidup pada tahun 936 sampai dengan 1013 merupakan yang pertama kali dalam melakukan persiapan pengobatan dengan sublimation dan distillation.
Abu Al Qasim memperkenalkan bagaimana menyiapkan segala sesuatu dalam bentuk resep dan menjelaskan bagaimana menggunakan form yang mudah yang didalamnya terdapat susunan kandungan obat yang komplek dan kemudian menjadi mudah digunakan sebagaimana sekarang kita kenal dengan nama resep obat.
Al-Biruni Abu Raihan Al-Biruni (juga, Biruni, Al Biruni; lahir 5 September 973 – meninggal 13 Desember 1048 pada umur 75 tahun) (bahasa Persia: ابوریحان بیرونی ; bahasa Arab: أبو الريحان البيروني) merupakan matematikawan Persia, astronom, fisikawan, sarjana, penulis ensiklopedia, filsuf, pengembara, sejarawan, ahli farmasi dan guru, yang banyak menyumbang kepada bidang matematika, filsafat, obat-obatan.
Abu Raihan Al-Biruni dilahirkan di Khawarazmi, Turkmenistan atau Khiva di kawasan Danau Aral di Asia Tengah yang pada masa itu terletak dalam kekaisaran Persia. Dia belajar matematika dan pengkajian bintang dari Abu Nashr Mansur.
Abu Raihan Al-Biruni merupakan teman filsuf dan ahli obat-obatan Abu Ali Al-Hussain Ibn Abdallah Ibn Sina/Ibnu Sina, sejarawan, filsuf, dan pakar etik Ibnu Miskawaih, di universitas dan pusat sains yang didirikan oleh putera Abu Al Abbas Ma'mun Khawarazmshah. Abu Raihan Al-Biruni juga mengembara ke India dengan Mahmud dari Ghazni dan menemani dia dalam ketenteraannya di sana, mempelajari bahasa, falsafah dan agama mereka dan menulis buku mengenainya. Dia juga menguasai beberapa bahasa diantaranya bahasa Yunani, bahasa Suriah, dan bahasa Berber, bahasa Sanskerta


Al-Biruni menulis salah satu karya Islamiah yang paling berharga atas ilmu farmasi menghakkan Kitab al-Saydalah (Buku Obat), di mana dia memberi pengetahuan terperinci khasiat obat dan menguraikan garis besar tugas apotek dan fungsi dan kewajiban apoteker.
Ada juga Sabur Ibn Sahl (D 869), dokter pertama untuk memulai pharmacopoedia, menggambarkan jenis besar obat dan pengobatan untuk penyakit.

Yuhanna Ibnu Masawayh (777 M - 857 M)
Nama lengkapnya Abu Zakariyya Yuhanna Ibnu Masawaiyh, populer dengan julukan Ibnu Masawaiyh, orang Barat biasanya memanggilnya Mesue. Beliau adalah seorang dokter yang termasyhur pada abad kesembilan Masehi yang telah berperan besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan pada masanya dengan upaya penerjemahan karya-karya Yunani. Di kalangan bangsawan, sosok Ibnu Musawayh sangat dikagumi karena kemampuan intelektualnya di bidang ilmu pengetahuan kedokteran. Ia pernah bekerja sebagai dokter istana. Ia adalah pelopor dalam meletakkan dasar-dasar farmasi Islam dan berhasil membuat sejumlah simplisia aromatik.

Karirnya sebagai seorang dokter ternama dimulai sejak masa pemerintahan al-Rasyd hingga al-Mutawakkil. Selama bekerja di lingkungan istana, Ibnu Masawayh bersahabat dengan Ibrahim bin al-Mahdi. Keduanya memiliki kesamaan, yaitu mempunyai minat yang sangat besar terhadap sains Yunani, seperti halnya syair-syair Arab. Mereka berdua memelajari sejumlah terjemahan karya para ilmuwan Yunani secara rutin. Selain itu, Masawayh juga diperkenalkan dengan putra-putra ar-Rasyd, salah satunya adalah Abu al-Abbas Muhammad. Di kalangan istana, Ibnu Musawayh mendapat tempat yang terhormat

Kemasyuran Ibnu Musawayh yang melejit dengan cepat membuatnya dimusuhi sejumlah orang, apalagi posisinya sebagai dokter istana adalah impian setiap ahli. Saat itu, pesaing berat Ibnu Masawayh adalah keluarga dokter Bukhtyashu yang selama 4 generasi telah menjadi dokter keluarga khalifah. Keluarga Buhktyashu memiliki keyakinan yang berbeda. Mereka penganut kepercayaan Nestorian, yang berhubungan dengan ajaran Yunani & mempunyai naskah dari Galen. Mereka juga meyakini bahwa berbagai macam disiplin ilmu, seperti astrologi , kedokteran, & kimia, harus disatukan dalam satu kesatuan tunggal.

Ibnu Masawaiyh telah berhasil mengumpukan sekitar 30 simplisia, lengkap dengan metode pengamatan dan diagnosis fisik terhadap efek farmakologisnya. Ghaliyyah atau pencampuran aromatik juga telah dipraktekkan dalam terapi aromatik dan proses pembuatan parfum. Kamper yang dibawa oleh para pedagang India dari China dijadikan sebagai bahan baku obat. Berbagai rempah-rempah dijadikan bahan penelitian serta dikembangkan menjadi bahan parfum dan bahan dasar ramuan obat herbal.

Ibnu Masawayh tak berhenti dengan hanya mengadakan penelitian terhadap berbagai tanaman untuk dijadikan bahan obat.. Sebagai seorang fisikawan, ia sangat memahami sifat-sifat alamiah dari berbagai tanaman yang dapat digunakan untuk penyembuhan melalui metodologi empiris dan analogi. Penemuannya yang sangat terkenal adalah metode "diet" sebagai metode penyembuhan tanpa obat, sebagaimana termuat dalam bukunya yang berjudul Al-Mushajjar al-Kabir. Pengembangannya pada metode diet telah memberikan alternatif pengobatan dengan cara lain. Pasien-pasiennya sering menganggap dia sebagai dokter spesialis diet. Ia mempelajari secara serius berbagai makanan dan minuman yang dapat mendukung program diet.

Kontribusinya juga terbilang penting dalam bidang pengembangan farmasi dan farmakologi. Salah satu karya Ibnu Masawayh yang terkenal adalah kitab Al-Mushajjar Al-Kabir. Kitab ini merupakan semacam ensiklopedia yang berisi daftar penyakit berikut cara pengobatannya melalui obat-obatan serta diet. Ada dua buah karya penting Ibnu Masawayh berbahasa Arab yang terkenal yaitu an-Nawadir al-Thibbiyya (sebuah kumpulan catatan media), serta Kitab al-Azmina (sebuah deskripsi tentang berbagai ragam musim sepanjang tahun).

An- Nawadir al-Thibiyya adalah sebuah buku kumupulan teori & masalah kedokteran. Selain kedua karya di atas, Ibnu Masawayh juga pernah menghasilkan sebuah karya berbahasa Latin, yakni Mesue. Sebuah karya yang memperoleh penghargaan di Eropa.

Sampai pada abad kelima belas, seorang ahli kedokteran Barat bernama Petrus Gulosinus berpendapat bahwa kitab Mesue mengandung banyak butir-butir mutiara pengetahuan serta memberi kepuasan sebagai sebuah bahan pelajaran. Sebaliknya, terdapat pula beberapa sarjana seperti Lecrere, yang kadang meragukan Ibnu Masawayh dalam kitab Mesue-nya. Namun demikian, para pembacanya di Barat tetap tertarik pada Ibnu Masawayh sebagai seorang dokter praktik yang ulung.

Lebih jauh sebelumnya, ilmuwan Islam lainnya yaitu
ar-Razi bahkan memuji jasa-jasa Ibnu Masawayh dalam karyanya Contines. Hal ini dapat diketahui dari banyaknya rujukan yang dikutip dari bukunya, khususnya tentang praktik-praktik medis di samping dua buah kitab lain yang juga ia gunakan. Kedua kitab tersebut adalah Book of Fevers (Kitab tentang Demam) yang merupakan sebuah duplikat dari karya Hippocrates (Kitab al-Humayyat) dan Kitab al-Adwiya al-Munakkiya. Kedua buku tersebut adalah kitab-kitab karangan Ibnu Masawayh yang juga laris di Abad Pertengahan.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar